Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina

Alangkah nikmatnya dicintai dan mencintai, dipercaya dan mempercaya, Alangkah mengharukannya dukungan rakyat yang tanpa pamrih. Kadang mereka lebih galak membela kita daripada kita yang mereka bela. Rakyat bisa datang berjalan kaki bermil-mil, dalam panas dan haus. Untuk apa mereka begitu antusias ? Apa jaminan caleg dan jurkam yang berjanji memperjuangkan nasib mereka ?

Dukungan ini tak lepas dari realita yang mereka temukan dalam kehidupan para kader di pelbagai medan kehidupan. Yang komitmen kerakyatannya tak terragukan. Yang kepekaannya terhadap nasib mereka selalu hidup dan tajam. Yang tertempa oleh ke-ikhlasan dan kesabaran sehingga tak tergiur oleh iming-iming dunia, KKN atau berbagai tekanan, ancaman atau godaan. Kecuali bila Anda adalah sekian dari sekian kekecualian, penumpang gelap di gerbong atau lok keadilan.

Akan teruskah dukungan berdatangan, ataukah seperti penumpang bus yang silih berganti dan berbeda kepentingan atau turun dengan penuh umpatan penyesalan ? Demikian mengharukan dukungan datang. Tetapi awas, tiba-tiba ia dapat berubah menjadi taufan dan amuk balik yang mematikan.

Rakyat terlalu lelah untuk bisa memahami tokoh partai, kiayi muda atau aleg yang takut mengunjungi mereka, karena harus berhati-hati jangan sampai kemeja mahalnya ternoda debu di gubug mereka. Atau pantalonnya lusuh karena duduk diatas bangku reot di warung mereka. Atau nafasnya sesak duduk di rumah mereka yang kecil dan kurang udara. Atau jangan sampai mobil hasil dukungan rakyat tergores di gang sempit tempat domisili mereka. Rasanya terlalu mewah untuk bermimpi kapan pemimpin yang mereka dukung mengikrarkan (dan mem-buktikan), “Bila Anda perlu mengangkut keluarga yang sakit di tengah malam buta, silakan ketuk pintu dan kami akan antar ke rumah rawat”. Mereka tak punya cukup keberanian untuk menyeruak rumah baru para pemimpin yang sudah serba mewah. Mereka pun tak cukup mengerti bahwa ada (isteri) sesama kader juga saling menunggu, kalau-kalau tetangga yang sukses dengan dukungan kita mau ‘melempar’ mesin cuci butut atau kompor bekas yang sudah berganti dengan produk paling mutakhir, atau membeli tambahan buku saat anak-anak mereka berbelanja, untuk teman sekelas atau anak tetangga lainnya.

Kader Pra Pemilu

Banyak kader tahan berbincang berjam-jam dengan rakyat jelata, kuli bangunan dan pengangguran, saat ia masih sama-sama miskin. Ia bisa dengan lahap menenggak su-guhan teh panas di gelas mereka yang sederhana atau melahap sepotong dua tempe yang mereka goreng diatas perapian kayu bakar atau kompor minyak yang selalu me-nyimpan ancaman terselubung untuk meledak kapan-kapan waktu. Ia masih punya frekuensi dan gelombang setara untuk saling berbagi suka dan duka. Yang membedakan mereka mungkin satu, rakyat tak punya lidah yang cukup sistematis dan tidak punya saluran yang memadai untuk mengalirkan aspirasi dan sang kader punya ‘sistem’ untuk mengusung aspirasinya lewat saluran-saluran yang banyak dan lancar. Saluran itu adalah suara rakyat, keikhlasan mereka memilih dalam pemilu dan husnuzzhan yang luar biasa tingginya !

Apa yang diharapkan rakyat dari dukungan mereka ? Ingin jadi anggota parlemen ? No way ! Mau jadi pejabat tinggi di partai atau di birokrasi ? Tak mimpi, lah. Begitu tulus harapan mereka ; agar kebenaran dan keadilan bisa tegak di tangan para kader yang akrab dan beradab, bersih dari KKN dan fasih membacakan ayat-ayat kebenaran serta lantang mempidatokan gagasan-gagasan, janji-janji dan gugatan-gugatan. Mereka punya basic insting yang murni untuk mendukung siapa yang jujur, asal dekat, terjangkau dan meyakinkan.

Terlalu rumit mencerna teori-teori politik dan paradigma da’wah, kecuali para kader telah menyajikannya dengan pendekatan yang membumi. Otak mereka terlalu sarat beban hidup, sehingga pilihan yang mudah diingat ialah wajah yang sering datang pergi, lancung atau pendustakah mereka.

Disini demokrasi menjadi mesin culas orang-orang yang ingin meraih kekuasaan dengan cara-cara licik. Partai dominan membiarkan kemiskinan untuk pada saatnya di-tukar dengan suara murah di bilik pemilu. Partai mitos sengaja merawat kebodohan dan memupuknya dengan berbagai mimpi kewalian, kekeramatan dan kemenangan agar rakyat tetap mendukung dan tak menggunakan nikmat
akal yang begitu mahal.

Rakyat Pasca Pemilu

Kecuali dari kelompok pengejar kedudukan – seperti bandar-bandar judi, bandar bakso atau pemulung yang menjadi aleg dengan membeli kursi itu dari partainya dengan tarif ratusan juta rupiah – selebihnya rakyat adalah rakyat. Yang nasib mereka terus bergulir. Naik turun dalam kehidupan. Dengan gubug yang semakin rapuh, tergusur atau menjadi gedung, anak yang semakin banyak tuntutan dan status yang selalu diatasnamakan.

Terkadang muncul penyimpangan pertumbuhan seksual anak-anak, karena kondisi rumah yang tak kondusif bagi pendidikan. Harta habis untuk menebus anak yang di tangkap polisi atau memasukkan anak-anak ke panti rehabilitasi mangsa narkoba. Yang hanif tetap dengan harapan-harapan yang entah kapan dapat terwujud. Hal yang tak berubah dari mereka; dukungan.

Mereka sangat sederhana dan tidak mengada-ada. Bila mereka mulai kecewa terhadap partai-partai atau petinggi-petinggi partai atau apa saja komentar bisa sangat getir:
– “Ah, lehernya sudah tak bisa menoleh ke gubug kami lagi”
– “Kerongkongannya sudah tak bisa dilewati gorengan singkong kami”
– “Mereka orang-orang steril, alergi ketemu rakyat”
– “Ah, kita kan cuma tangga, sesudah mereka menginjak-injak punggung kami, ya sudah, tinggal senang-senang saja”
– “Dulu, waktu masih perlu dukungan suara untuk Pemilu mereka sering datang, sekarang 3 lebaran lewat, la salam wala kalam”
– “Dulu sih, kita masih berharap. Sekarang, apa bedanya dengan partai lain. Kadernya sombong-sombong”
– “Apa yang berubah, suaranya di parlemen: sepi, sepi, sepi ! Yang kita dengar ramai, itu klakson mobil mengkilapnya. Pakaian isterinya makin gemerlap. Mainan anaknya makin norak. Sudah itu mobil dinas dipakai nganter anak. Ngomongnya dulu Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu karena tamunya tamu pribadi”

Kedekatan adalah Bahasa Paling Fasih

Tidak benar rakyat senang betul melihat para pemimpin lapar dan miskin. Ya, roman-tisme siapa saja bisa terpanggil oleh kebersahajaan dan kesederhanaan, terlebih bila itu keluar dari diri dan keluarga kader, pemimpin dan da’i.

Tidak perlu buang energi, berkerut wajah dan berbusa mulut untuk meredam suara-suara begini. Mereka hanya memerlukan keakraban, kebersahajaan dan kesederhanaan, lalu berbagai prasangka segera menguap.

Bukan pergelaran dendam kemiskinan, lagak pahlawan kesiangan atau pura-pura peduli. Mereka siap dibohongi asal nampak logis.

Tetapi itu mustahil, kecuali Anda memang dilahirkan untuk berbohong. Banyak orang panik menghadapi kritikan yang sebagiannya memang berbukti, sebagiannya harapan dan selebihnya ‘kenaifan’ analogi sejarah.

Bagaimana mungkin pemimpin disuruh pergi berkeliling negeri malam-malam untuk mengintai ibu-ibu yang menggodog batu, agar anak-anaknya tenang ?

Kini di siang hari mereka telah menggodog kucing, untuk ‘menenangkan’ mereka. Kadang naluri ‘birokrat’ bekerja dengan jawaban-jawaban oral yang sengit dan apologik, padahal jawabnya tersimpan dibalik kerendahan hati dan kepekaan sosial kader

Ust. Rahmat Abdullah

Iklan

Ngapain aja kamu di bumi

Manusia dengan makhluk Allah lainnya sangat berbeda, apalagi manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain, salah satunya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk penciptaan, namun kemuliaan manusia bukan terletak pada penciptaannya yang baik, tapi tergantung pada; apakah dia bisa menjalankan tugas dan peran yang telah digariskan Allah atau tidak, bila tidak, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala kesengsaraannya, Allah Swt berfirman yang artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya (QS 95:4-6).
Paling kurang, ada tiga tugas dan peran yang harus dimainkan oleh manusia dan sebagai seorang muslim, kita bukan hanya harus mengetahuinya, tapi menjalankannya dalam kehidupan ini agar kehidupan umat manusia bisa berjalan dengan baik dan menyenangkan.
Baca lebih lanjut

Tiga Kenikmatan Hidup

Setiap manusia, apalagi sebagai muslim kita tentu mendambakan kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, bahkan kalau perlu seolah-olah dunia ini menjadi milik kita. Untuk bisa merasakan kehikmatan hidup di dunia ini, ada tiga perkara yang harus dicapai oleh seorang muslim, hal ini disebutkan dalam hadits Nabi:

Barangsiapa yang di pagi hari sehat badannya, tenang jiwanya dan dia mempunyai makanan di hari itu, maka seolah-olah dunia ini dikaruniakan kepadanya (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Untuk memahami lebih dalam tentang apa yang dimaksud oleh Rasulullah Saw, hadits di atas perlu kita pahami dengan baik.

1. BADAN YANG SEHAT.

Badan yang sehat merupakan suatu kenikmatan tersendiri bagi manusia yang tidak ternilai harganya, rasanya tidak ada artinya segala sesuatu yang kita miliki bila kita tidak memiliki kesehatan jasmani. Apa artinya harta yang berlimpah dengan mobil yang mahal harganya, rumah yang besar dan bagus, kedudukan yang tinggi dan segala sesuatu yang sebenarnya menyenangkan untuk hidup di dunia ini bila kita tidak sehat. Oleh karena kesehatan bukan hanya harus dibanggakan dihadapan orang lain, tapi yang lebih penting lagi adalah harus disyukuri kepada yang menganugerahkannya, yakni Allah Swt.
Baca lebih lanjut

Panduan nge BLOG

Beuntunglah dunia Blog indonesia dihuni oleh om fatihsyuhud, dan ajo39 bruntung pula nyasar ke MARKAZNYA

semoga ALLAH mengaruniai umur yang bermanfaat untuk sang pembuka (Al fatih)

makasi banyak om…… salam dahsyat

ini hasicontoh pelajarannya  : belajar buat link kayak gini neeh

ZAMAN GEENEE MASIH PAKAI JILBAB…!!! yang benar aja dong..

hari ini golan jalan-jalan di kota padang…

yang sangat tercinta yang slalu kujaga dan kubela.. (motonya sih gitu..)

lamo bajalan panjang nan tatampuah

( Lama berjalan (berpergian) panjang yang ditempuh)

lamo mancaliak banyak nan tasilau

( lama melihat banyak juga yang terperhatikan )

sepanjang jalan tadi golan memperhatikan ratusan bahkan ribuan wanita ( baca: bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang) lalu lalang dengan segala kesibukannya, lengkap dengan jilbab / kerudungnya.. namun….???? ada rasa yang janggal…

subsconsius mind golan mulai bermain… input dari pemandangan mata mulai di  proses……….  @$%&*#$%#@%$%$*&&$#()*($%…………….. au ah gelap.. nggak jelas…pusing..

dan golan pun memilih browsing di warnet sebagai tempat nongkrong malapeh paneknya.

entah bgmn caranya tiba-tiba sebuah artikel yang disertai gambar nongol dilayar….

gambarnya adalah cewek dengan aneka jilbab /kerudung…………. AHA… eureka…!!!
Baca lebih lanjut

Izinkan Kami Menata Ulang Taman Indonesia

“Sejarah adalah catatan statistik

tentang denyut hati, gerak tangan, langkah kaki, dan ketajaman akal.”

(Malik Bin Nabi, Ta`ammulat; 35)




Ledakan Energi Peradaban

Empat syuhada berangkat pada suatu malam,

gerimis air mata tertahan di hari keesokan,

telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu-sedan,

Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,

mengukir reformasi karena jemu deformasi,

dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,

Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu.

Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri,

karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,

Merah Putih yang setengah tiang ini,merunduk di bawah garang matahari,

tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi.

Tapi peluru logam telah kami patahkan alam doa bersama,

dan kalian pahlawan bersih dari dendam,

karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.
(Taufik Ismail, 1998)

Begitulah Taufik Ismail lewat sajak berjudul 12 Mei 1998 mengabadikan kepahlawanan empat mahasiswa Trisakti yang gugur diterjang peluru kediktatoran rezim Orde Baru; Elang Mulyana, Hery Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidin Royan. Mereka adalah sebagian dari pelaku baru sejarah Indonesia dan sekaligus fajar yang menandai lahirnya generasi baru, generasi 1998.
Baca lebih lanjut

Ukurlah dengan Iman….

“Apa yang dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku ada dalam jiwaku, Jika mereka memenjarakanku maka itu adalah masa penyepianku dengan Tuhanku. Jika mereka mengasingkanku ke suatu tempat yang jauh maka itu adalah masa pengembaraan bagiku. Jika mereka membunuhku, itu adalah kematian yang semoga menjadikanku sebagai syahid. ” (Ibnu Taimiyah)

Bagaimana seseorang mengarungi hidup jika tanpa iman? Kesibukan, bagi orang yang tak memiliki iman, adaIah menapaki keinginan yang tak pernah selesai. Menjalani waktu, sejak pagi, siang, petang, malam hingga bertemu pagi kembali, bagi orang yang tak memiliki iman, adalah ibarat mengarungi belantara hutan yang tak pernah ada ujungnya, atau menyeberangi lautan luas yang tak pernah bertepi. Mereka terus bergelut dengan ambisi, memenuhi keinginan nafsu, sementara itu semua tidak pernah membuat lapar dan dahaganya berkurang.

Wajar, jika tak sedikit orang yang merasa lelah menjalani hidup. Ya, mereka lelah karena ternyata seluruh keringat, pikiran dan usahanya tak pernah membuatnya merasa cukup. Semakin banyak usaha yang diperoleh, semakin tinggi tuntutan untuk memperoleh yang lebih banyak. Peluh yang menetes temyata hanya memberi kepuasan yang makin membakar nafsu untuk mendapatkan yang lebih besar. Lalu setelah itu, jatuh bangun lagi, bertarung demi ambisi lagi, mengejar dan memenuhi nafsu lagi, untuk keinginan yang tak ada habisnya.
Baca lebih lanjut